à la Pameran à la-à la

Tulisan ini merupakan salah satu bagian dari Pamflet e.gal.i.tar.i.an, No. 7 – Mei 2018 dan tidak menjadi bagian terpisahkan darinya. Baca Editorial DISINI.

 

DHUHA RAMADHANI
dhuharamadhani@gmail.com | @klmrm
https://www.linkedin.com/in/dhuha-ramadhani-967b28a0/


PADA HARI ITU, 19 Maret 2018 siang, kebetulan sedang swipe-swipe Instagram Story tidak sengaja saya melihat postingan di akun @pradnja_ tentang Hari Seni Rupa.

Melalui DM:

Saya                       : “Paan nih???
@pradnja_            : “Wehehehe mau ajak fisip seneng2 lwt seni rupa!

Segera setelahnya saya DM @manshurzikri:

Eh, dateng sini.”
“https:www.instagram.com/harisenirupa”
“Kontemporer”

Sudah hampir lupa, kemarin malam sebelum tidur Zikri mengajak saya untuk ke UI esok harinya, katanya ada pembukaan Hari Seni Rupa. Keesokan harinya, Saya dan Zikri tiba di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia (Perpusat UI) sekitar pukul 10, dalam posternya tertera bahwa pameran mulai dibuka pada pukul 09.00. Kami masuk ke Perpusat UI dari arah parkiran motor di sebelah Masjid Ukhuwah Islamiyah. Sedang mencari-cari letak pameran, kami dihadapkan pada plang penunjuk arah yang disediakan oleh penyelenggara. Tidak hanya bagi saya, plang ini segera menarik perhatian Zikri juga, lagi pula, bagaimana tidak? Berikut gambarnya:

Sayangnya setelah mengikuti arahan panah ini kami mendapati pameran belum dibuka, penyelenggaranya masih nampak bersiap-siap. Jadilah kami menuju kantin Takor (tapi yang di Gedung Nusantara). Di situ saya menghubungi Anggit, Humas pameran ini, katanya baru akan dibuka sekitar pukul 1 siang.

Pukul 1 siang. Instagram Story @harisenirupa menyatakan pameran sudah dibuka, kami segera kembali ke Perpusat UI. Pameran mengambil tempat di sebuah ruang terbuka di depan kantor Pos Indonesia. Barangkali, agar lebih terlihat seperti galeri, penyelenggara memasang kain-kain putih sehingga membuat ruang ini memiliki dindingnya sendiri, kain-kain putih yang diikat sedemikian rupa pada pipa-pipa air alat pemadam kebakaran berwarna merah yang bergoyang-goyang saat ada angin bertiup. Setelah mengisi daftar hadir—seingat saya di halaman yang saya isikan itu sudah cukup banyak terisi nama-nama hadirin—saya segera membaca teks yang dipajang di sebelah meja registrasi. Begini tulisannya:

TEMA
HARI SENI RUPA
“INTERASYIK”

Interaksi diartikan sebagai sebuah proses yang saling memengaruhi antara dua objek atau lebih, serta dapat dilihat pada manusia, fenomena, serta benda mati di sekitar kita.

Dalam kehidupan, berbagai interaksi terjadi di sekeliling kita, menjadi sesuatu yang konstan sekaligus dinamis dalam keseharian kita sebagai manusia yang sosial. Tak jarang, dari interaksi ini memunculkan ide dan gagasan. Melalui berbagai ide dan gagasan yang muncul inilah sebuah karya seni rupa lahir.

Dalam proses berkarya, perasaan yang dilandasi dengan kegemaran dan dilakukan dengan penuh sukacita mengibaratkan sesuatu yang menyenangkan sehingga setiap proses seni rupa dapat menjadi sesuatu yang asyik.

Sehingga “interaksyik” dapat diartikan sebagai interaksi individu dengan sekitarnya yang diungkapkan dalam sebuah karya seni rupa melalui proses yang mengasyikan. 

Sebab tiada lagi teks yang dihadirkan oleh penyelenggara pameran, bolehlah kita jadikan teks ini sebagai panduan untuk memahami apa saja isi pameran di dalam ruang galeri itu. Namun sebelum lebih jauh membahas perihal isi pameran, saya ceritakan yang lain dulu. Kata “kontemporer” yang saya tulis di DM ke @manshurzikri merujuk pada poster acara yang dibelah menjadi 6 bagian di akun Instagram @harisenirupa. Di poster itu ada wajah Yayoi Kusama, seniman asal Jepang, di sebelahnya ada tulisan begini: “SENI RUPA KONTEMPORER – Seni yang berkembang pada masa kini, merespons, dan merepresentasikan situasi sosial dan budaya terkini.” Dalam poster yang sama tertera pula tulisan: “Sumber: Jakartabiennale.net.” Tulisan ini akan menerangkan kembali—sebisa mungkin kronologis dengan mengacu pada postingan akun Instagram @harisenirupa— tentang proses yang penyelenggara dan para peserta pameran lalui sampai tiba pada hari ini.

Untuk sampai pada pameran ini, penyelenggara yang dinaungi oleh BEM FISIP UI 2018 telah menggelar setidaknya tiga kegiatan: Nonton Asyik, Sayembara Ide, dan Kelas Rupa. Barangkali dari tiga kegiatan ini lah teks yang cukup panjang di atas berproses dan menjadi seperti yang dapat kita baca itu. Oleh sebab saya tidak tahu persis apa yang berlangsung di setiap kegiatan itu, di sini saya hanya akan menuliskan ulang informasi seperti apa yang ada di akun @harisenirupa. Dalam kegiatan Nonton Asyik diputarkan sebuah filem berjudul “Cutie and The Boxer” (2013) karya Zachary Heinzerling. Dalam diskusi setelah pemutaran, dihadirkan dua pembicara yang dimoderatori oleh Mutiara Choiriyah: Ahmad Fuadillah dan Viandira Athia dari Komplotan Jakarta 32°C. Kegiatan Sayembara Ide dilangsungkan setelahnya, di sinilah penyelenggara membuka ruang untuk siapa saja mendaftar dan ikut berkarya. Di poster yang diposting pada 4 April 2018 itu diterakan pertanyaan “Siap jadi orang keren?” tepat di bawahnya dicantumkan tautan dan QR Code untuk daftar menjadi peserta. Dalam proses ini terjaring 17 nama mahasiswa FISIP UI yang akan mengikuti proses selanjutnya sebelum memamerkan karya mereka: Kelas Rupa. Penyelenggara mengucapkan “Selamat kepada peserta yang telah melewati proses kuratorial.” Saya belum tahu sampai sekarang siapa kurator dan bagaimana proses kuratorial itu berlangsung.

Pada 15 April 2018, akun @harisenirupa memposting poster tentang Kelas Rupa 1—Kelas Rupa dibagi menjadi 3 pertemuan—dengan pemateri dari Komplotan Jakarta 32°C. Sebelumnya, pada 9 April 2018, penyelenggara memperkenalkan siapa sebenarnya komplotan ini. Begini caption yang mereka buat pada postingan berupa infografis tentang Komplotan Jakarta 32°C:

[MENGENAL KOMUNITAS KEREN]

Komunitas keren akan tiba di kampus jingga dan siap untuk membuat kalian semakin keren.

Mau kenal dan makin keren? Yuk, simak infografis di atas untuk mengenal komunitas “Jakarta32c”.

Hari Seni Rupa 2018
#SiapSenangSenang 

Narahubung: Anggit
(082112555123)

Departemen Seni Budaya
BEM FISIP UI 2018
Nyalakan Asa, Bangkitkan Karya

Entah mengapa kata “keren” dirasa perlu oleh penyelenggara untuk diterakan dalam beberapa postingannya. Apakah ini maksudnya seni, atau lebih spesifik seni rupa itu keren? Atau tahu tentang seni rupa itu keren? Atau dengan membuat karya seni rupa maka seseorang lantas menjadi auto-keren? Bagaimana ya maksudnya? Kita catat saja dahulu pertanyaan ini dan beralih ke kegiatannya saja.

This slideshow requires JavaScript.

Dari foto-foto dokumentasi tentang Kelas Rupa 1 yang diposting, diketahui bahwa pemateri sesi pertama adalah Gesyada A. Namora Siregar dan temannya, saya belum tahu namanya. Materi pada sesi ini diberi judul “Kepoin Seni Rupa Kontemporer,” digelar pada 16 April 2018. Materi Kelas Rupa 2 tentang “Eksplorasi Medium Seni Rupa” disampaikan oleh Ahmad Fuadillah dan temannya, saya juga belum tahu namanya. Sesi kedua digelar pada 23 April 2018. Setelah dua pertemuan itu, di Kelas Rupa 3 yang dilaksanakan pada 25 April 2018 dilakukan presentasi ide karya seni rupa oleh para peserta Hari Seni Rupa 2018, juga masih didampingi oleh Komplotan Jakarta 32°C. Pada sesi ini anggota komplotannya hadir lebih banyak: Ahmad Fuadillah, Ibrahim Soetomo, Viandira Athia, dan dua temannya. Agaknya komplotan ini cukup berperan sedari awal proses berkarya para peserta Hari Seni Rupa 2018.

Setelah postingan tentang sesi ketiga, tidak ada lagi postingan yang menampilkan kegiatan lain sampai pada saat diumumkannya waktu pameran. Barangkali dalam rentang waktu tersebutlah karya-karya mulai diproduksi oleh para peserta. Begitulah kiranya paparan singkat tentang proses yang telah dilalui oleh penyelenggara dan para peserta Hari Seni Rupa 2018 sebelum pameran. Sekarang, mari kita membahas tentang pamerannya.

Dari pintu masuk Perpusat UI saya belok kanan mengikuti arahan plang penunjuk arah, di plang itu tertulis pula “bisa foto à la- à la museum macan!” Mungkin ini alasan mengapa di salah satu poster kegiatan Hari Seni Rupa 2018 ada foto wajah Yayoi Kusama, seniman yang karyanya sedang dipamerkan di Museum MACAN (The Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara) itu. Tentang À la, mungkin perlu disinggung sedikit, sebuah idiom Prancis yang dalam penggunaan informal bahasa Inggris diartikan sebagai “in the style or manner of” atau dalam bahasa Indonesia mungkin cocok untuk diterjemahkan secara bebas menjadi “bergaya.” Jika secara sembarang kita kaitkan hal ini dengan pertanyaan “Siap jadi orang keren?,” semoga arahnya kemudian dalam kegiatan berkarya para peserta atau penyelenggaranya tidak bermaksud untuk keren-kerenan atau gaya-gayaan saja, bisa kita cek kemudian. Sebab jika sampai benar ke arah sana, maka diperlukan cukup banyak diskusi lanjut tentang hal ini secara serius, kita tidak mau mengalami kecelakaan semacam itu.

Ketika masuk pertama kali, saya hanya berjalan berkeliling untuk mengambil foto dokumentasi karya-karya peserta Hari Seni Rupa 2018 yang ada di dalam ruang galeri buatan penyelenggara itu, saya belum memerhatikan secara seksama karya-karyanya. Baru setelah semua karya saya foto saya mengambil putaran kedua untuk memperhatikannya. Penyelenggara tidak mematok adanya alur tertentu yang mengarahkan pengunjung pameran ketika hendak melihat-lihat karya, petunjuk satu-satunya hanya penegasan di mana pintu masuk, dan di mana pintu keluar. Namun tidak juga dalam arti alur semacam itu selalu dibutuhkan, terlebih dalam konteks seni kontemporer, seniman bisa menggunakan lokasi apapun untuk memamerkan karyanya, bahkan galeri dan segala perangkatnya tidak musti ada. Jadilah saya mampir dari satu karya ke karya lain yang terdekat dengan karya sebelumnya. Dalam pameran bertajuk seni rupa ini setidaknya kita akan menemui karya instalasi, video, dan fotografi, walau sebenarnya dikotomi semacam ini tidak terlalu menjadi soal dalam seni kontemporer. Saya tidak akan berpanjang-panjang perihal ini, tulisan ini hanya akan tentang pengalaman pertama saya menghadiri pameran seni rupa di FISIP UI setelah lulus.

Adalah sebuah dugaan menarik dari Retasya Bonita selaku Ketua Pelaksana Hari Seni Rupa 2018 beserta tim yang menilai bahwa seni rupa di FISIP UI mengalami stagnansi. Ia dan tim meletakkan perhatiannya pada situasi di mana menurut mereka stagnansi ini disebabkan oleh karena para mahasiswa potensial dalam bidang seni (khususnya seni rupa) masih berkarya secara individual. Dalam rangka merespon situasi ini, inisiatif mereka adalah mengarahkan adanya penanaman kesadaran untuk berkarya secara organik dan kolektif, dengan kata lain berkomunitas dan berjejaring. Hari Seni Rupa 2018 dapat dilihat sebagai manifestasi dari niatan yang baik sebab tujuannya adalah menjaga iklim berkesenian yang berkelanjutan dan progresif, terkhusus di FISIP UI. Rakrian Kuti dalam pamflet Egalitarian Edisi No.4 – September 2016 pernah menyinggung hal ini. Ia menekankan bahwa, dalam berkomunitas, visi untuk sekadar menjadi sarana saluran minat dan hobi sudah sepatutnya dilampaui. Ada beberapa infrastruktur yang disinggung: kajian dan/atau riset, hubungan masyarakat, strategi pembagunan jaringan, tim produksi dan penelitian dan pengembangan. Setidak-tidaknya, penyelenggara Hari Seni Rupa 2018 telah memulai beberapa unsur tersebut.

Peningkatan kapasitas tidak cukup dengan dua sampai tiga kali pertemuan (kelas) saja, rutinitas adalah kemestian dalam konteks ini. Pemahaman yang hanya pada permukaan hanya akan mendekatkan si (calon) pelaku seni pada kecelakaan yang saya singgung di atas. Kita tahu bahwa logika yang sama juga berlaku di bidang lain, tidak hanya di bidang ini. Keberanian untuk menggelar pameran di luar lingkungan FISIP UI dapat dilihat sebagai upaya baik untuk memulai berbagi pengetahuan—kalau kata edukasi atau literasi agaknya dinilai terlalu superior—kepada publik. Pada situasi ini pula para peserta Hari Seni Rupa 2018 dibenturkan langsung dengan pengunjung pameran yang barangkali tanpa peringatan berkata “karyanya jelek, sampah, bagus, spektakuler, kompleks, sederhana, kosong, berbobot.” Seni memang subjektif, namun sulit untuk melepaskan diri dari penilaian objektif medan seninya, tidak bisa sembarangan memakai dalih “ekspresi diri atau ungkapan perasaan” sebagai perisai untuk menolak kritik dan lantas berkata: “kalian tidak mengerti seni, diam saja!” Bukan begitu? Terlebih belum tentu si pembuat karya mengerti karyanya sendiri, mengerti bukan mengada-ada.

Dari 17 nama peserta yang tersaring, 16 nama di antaranya berhasil membuat karya. Meski pada saat pameran sudah dibuka ternyata ada 2 karya yang belum siap. Tentu ini serius, jika kata kolektif benar hendak dilakukan. Ketidaksiapan dua karya ini mengganggu kuratorial—meski saya belum yakin apakah teks yang cukup panjang di atas di awal tulisan ini memang diniatkan sebagai kerangka kuratorial. Kalau nyatanya tidak mengganggu, pertanyaannya bergeser, dan saya kira pembaca sudah tahu bergeser ke arah mana. Meski terbilang sebagai karya prematur, ada beberapa karya yang saya pikir menarik untuk didedah dan dikembangkan lebih jauh: Bittersweet (Nadia K.), Cekrek Realita (Aisyah Praya), Menjadi Almarhum (Triasa Nitorizki), Memanusiakan Tuhan (Salman Al-Fathan), dan (We’re all just some) flowers, (Sheila Maharani Berlian). Di samping itu, percayalah, 16 orang bukanlah jumlah yang sedikit. Jika potensi ini tidak dikelola secara terstruktur; serba instan; berbasis event; kita akan mengulang proses ini dari awal, apa guna? Dalam video tentang kesan-pesan dan suka-duka yang disajikan di luar galeri, hampir semua peserta menjawab “ingin, mau” dan semacamnya ketika pertanyaan “apakah ingin tetap berkesenian” diajukan.

Berbasis event yang saya maksudkan di atas sebenarnya persoalan yang tak kunjung selesai jika kita sempitkan dalam konteks pembahasan tentang BEM dan komunitas di lingkungan kampus, organisasi yang pengurusnya silih berganti dari tahun ke tahun. Makna keberlanjutan kerap dikecilkan: yang penting tahun depan programnya ada lagi. Ketika benar ada, gagasan atau pembicaraan apa pun yang pernah disampaikan, semisal kritik terhadap program sebelumnya acap kali tidak disertakan dalam prosesi serah jabatan. Persoalan ini terjadi di banyak bidang, tidak hanya di seni. Jika kita kecilkan lagi ruang lingkupnya, selepas pameran Hari Seni Rupa 2018 usai, saya pribadi tak yakin mereka-mereka yang menjadi penyelenggara masih punya waktu untuk mendampingi para peserta. Jika demikian lantas hal semacam ini bukan lagi jarang terjadi: para peserta yang merasa kegiatannya tidak ada kejelasan kehilangan energi untuk bertahan di pilihan jalur yang sudah mereka pilih sebelumnya.

Meski begitu, kita tidak juga bisa membebankan tanggungan ini pada penyelenggara saja, di sini jawaban para peserta di atas diuji. Tidak bisa tidak, ketahanan diri si calon pembuat karya mutlak dibutuhkan. Tidak sedikit ruang di luar kampus yang terbuka untuk mempertajam daya paham tentang seni, seni rupa, dan seni rupa kontemporer. Jika sempat naik KRL, Anda bisa menuju ke arah utara, Jakarta tidak seluas itu, bisa juga ke arah selatan, di sana ada Gerakan Seni Rupa Bogor yang belum lama ini terbentuk. Lagipula tulisan-tulisan tentang seni rupa kontemporer pasca 1960-an begitu mudah berada di genggaman Anda. Kita masih ingat figur-figur dalam Cekrek Realita karya Aisyah Praya, atau narasi-narasi dan sajian visual dalam Memanusiakan Tuhan karya Salman Al-Fathan, kita tidak pernah kekurangan akses atas informasi, seringkali malah dibanjiri olehnya. Rakrian Kuti dalam Edisi Egalitarian yang sama pernah memaparkan alasan-alasan defensif semacam uang dan waktu atau semacamnya, sebagaimana disampaikan Rakrian Kuti, alasan seperti itu sudah terlalu klasik, tidak kini, bukan? Kualitas dan kedalaman pemahaman diperlukan untuk menjauhkan diri dari potensi menjadi snob. Keenam belas orang ini dapat menghimpun subjektifitasnya jika ingin berkesenian secara kolektif, tidak lantas lebih mudah, namun saling mengkritik satu sama lain akan membantu, jika tidak bisa disebut sangat membantu. Diego Velázquez melalui Las Meninas di Abad 16 sudah menunjukkan pada kita unsur medan seni apa yang akan dihadapi para pembuat karya. Bagasi pengetahuan akan mempengaruhi kompleksitas karya si seniman, dan kompleksitas tidak sama dengan dirumit-rumitkan. Bagasi inilah yang akan membentuk subjektifitas, ia tidak hanya tentang rasa dan perasaan si individu seniman, karya baik selalu bisa dikritik secara objektif, tidak demikian dengan karya yang mengarang-ngarang.***

Baca TULISAN KEDUA

 

Advertisements