Si Tiang Aneh

Screen Shot 2017-10-01 at 17.53.22
Si Tiang Aneh

Hari ini tak banyak penumpang yang saya antar. Barangkali karena cuaca sedang tak ramah dan mereka memilih naik mobil saja pikir saya. Pada saat asap saya hembuskan, akhirnya ada penumpang yang minta dijemput. Alamatnya di Jalan Haji Saidi. Saya matikan dan letakkan kembali rokok saya barusan ke dalam kotak bersama dua temannya yang lain. Sudah terkonfirmasi dimana dia menunggu, segera saya melaju ke arah timur. Tiga sampai empat orang memberi tahu saya, letaknya tak sampai 50 meter di depan sana Pak, mereka kompak. “Pak Dhuha, ya?”

***

Pak Sumarso lihai memacu sepeda motornya sementara saya merunduk berlindung di belakang jaket hijau yang ia kenakan. Saya sampaikan, saya hendak pergi ke kediaman seorang gadis, bermaksud untuk melakukan semacam prosesi untuk ‘mengukuhkan’ sebuah hubungan. Mungkin ia tertawa puas dalam hati. Karena, tak secara sengaja, spion motor tumpangan kami menampakkan air mukanya yang cekikikan tanpa suara. Meski sebetulnya ada sedikit maksud saya untuk mengintip saat melihat spion itu, namun anggap saja tak sengaja terlihat. Dipikir saya Pak Sumarso akan bicara, maka saya pasang baik-baik telinga. Rupa-rupanya ia tidak berkomentar suatu apa juga.

Sejak pagi menuju sore kota ini begitu panas hingga beberapa saat sebelum Pak Sumarso datang langit baru berhenti menumpahkan airnya berbagi kesejukan. Pak Sumarso masih tiada mengeluarkan kata-kata sampai beberapa meter didekatinya mobil yang berjalan di depan kami. Senyumnya yang tadi menipis, dan dengan segera dibuatnya saya mengalih-pandangkan penglihatan saya dari spion ke grafik penunjuk kecepatan. Ini terjadi karena rasa-rasanya angin berhembus semakin dingin saja, juga kalau sebelumnya saya duduk lebih pasti dan tenang, kini saya turut meniru gerak badannya yang kadang miring ke kiri berganti ke arah kanan seketika.

Mendekati tujuan, kami mengarah pada dua pilihan: mengikuti arahan aplikasi dengan jalan memutar, atau mencari jalan-jalan yang lebih dekat dalam perkiraan. Lalu saya ingat, kemarin, melalui aplikasi peta digital saya melihat bahwa di depan kediaman gadis ini ada semacam tiang besi yang memiliki dahan-dahan berdaun (saya juga bingung itu apa, mungkin pemancar radio). Kami akhirnya memutuskan untuk mencari tiang itu. Tiba saatnya ketika di kejauhan di sebelah kiri kami, tak lama ia menampakkan dirinya di balik rerimbunan pohon jalanan. Pak Sumarso lantas menutup aplikasinya, mengikuti intuisi, kira-kira jalan tercepat mana untuk menuju tiang aneh itu.

Mesin dimatikan, Pak Sumarso menggeser tanda ‘akhir perjalanan’ di  aplikasinya. Kami tiba di bangunan bernomor 17 (dengan tiang aneh di seberangnya) pada pukul 11.03, lima belas atau dua puluh menit lebih mula daripada prediksi waktu perjalanan yang dibuat oleh algoritma Google Maps. Padahal sekurangnya sudah dua kali kami salah belok dan harus memutar. ‘Semangat Pak,’ ujar Pak Sumarso saat mesin motornya kembali dinyalakan. Tak lama, samar-samar ia hilang di balik tikungan. Saya kenakan kacamata dan berupaya melihat-lihat lebih jelas si tiang aneh dan bangunan bernomor 17 itu.

***

                  Minggu-minggu terakhir ini tidak cukup menyenangkan. Baru saja selesai kelahi kecil dengan rekan kerja, tiba-tiba dosen pembimbing saya menjadi banyak minta tanpa mau mendengar penjelasan saya, ditambah sedikit-dikit persoalan batin saya sendiri. Yang terakhir memang tidak seberapa besar, meski beberapa waktu membuat saya gusar juga. Akhir pekan ini lagi-lagi dia bilang hendak bertemu muka, kali ini pasti, katanya. Saya sendiri sudah hampir tak seberhasrat seperti pada akhir-akhir pekan yang lalu. Pukul 9, tidak juga batang hidung yang dibangga-banggakannya itu muncul. Sudah menduga ini akan terjadi, sejak sore baju tidur sudah melekat di badan saya.

Jam tangan pintar saya bergetar. Berdehem dua kali, lalu saya tekan tombol hijau di layar terpa. “Iya, tadi abangnya ngebut,” katanya. Telepon saya tutup. Saya menyalakan lampu, dan pakai sedikit gincu, membuka pintu terkunci dengan berpakaian seadanya. Masuk kembali mengambil dompet, segera menuruni tangga sambil merapikan rambut menuju gerbang. Saya berhenti sejenak ketika melihat ke luar pagar. Di pinggir jalan, tengah berjongkok laki-laki berambut panjang yang sudah batal datang entah sudah berapa kali, saya juga lupa (dan cukup  sebal). Biar saja, saya balas kelakuannya itu. Membuka gerbang, saya melengos ke arah kanan pura-pura tidak melihatnya.

***

                 “Beli rokok dimana ya?” Ia berbalik, “Di sana”. Kami berjalan mengikuti petunjuknya. Sayang warung itu tutup. Saya tiada bicara sepatah kata jua, hanya menunjukkan gestur tidak tahu harus ke mana. “Itu di sana ada juga”, ia berbalik mendahului saya. Menjauhi si tiang aneh kami berjalan tak tentu arah keluar gerbang kompleks. Berhenti sejenak di warung pecel lele di kolong tol, belum saya kasih tugas si lambung untuk mengunyah-ngunyah sesuatu sejak pagi. Saya pesan ayam goreng, sedangkan dia sibuk dengan layar terpanya, tentu dengan sesekali kami bicara. “Gerbang kost sudah dikunci, saya tak enak mengganggu Pak RT tengah malam begini, sudah terlalu sering.” Diputuskan untuk memesan mobil menuju Taman Ayodya, di Jalan Barito.

Pertama-tama dicarinya semacam camilan untuk mengisi perutnya sedikit. Di kolong tol ia bilang tak lapar, namun dipesannya seporsi sate (seingat saya sate ayam), alasannya tidak ada jajanan lain. Habis sate itu, saya tanya ia tak kenyang. Padahal tadi ia menolak ditawari lontong, duh. Tapi tidak apa, setelah lebih banyak diam, minimal karena si lontong itu kami jadi punya bahasan lain: karbohidrat. Ya memang tidak bertahan begitu lama. Lagi-lagi diam yang berada di antara kami. Untuk mengisi waktu saya tawarkan ia Dji Sam Soe, segera dibakarnya.

Saya tidak segera berjurus melancarkan gerakan-gerakan. Barangkali 52 tahun lalu, di hari yang sama, Resimen Tjakrabirawa juga belum melakukan pergerakan-pergerakan, melainkan persiapan-persiapan menuju keputusan. Waktu itu, baru sekitar pukul 1, malam saja belum ada tanda-tanda jatuh. Lagi pula saya sejujurnya bingung hendak memulai dari mana, sampai akhirnya saya buka layar terpa saya juga. Mengingat-ingat katanya ia akan bercerita beberapa hal saat bertemu saya. Tak pandai mengingat, saya buka aplikasi Line dan menulis kata “ketemu” di kolom pencarian. Akhirnya ketemu, dia bilang mau cerita soal filem Posesif yang ditontonnya tengah malam bersama dua orang teman. Filem picisan yang baginya tak bagus, klise, terlalu dibuat-buat. Tentang laki-laki posesif yang menabrak laki-laki lain karena cemburu. “Hahh? Apaan tuh?” Makin bingung ia karena bioskop malam itu full house padahal tiketnya 50 ribu, lebih mahal dari tiket biasanya di tempat itu. Lebih bingung lagi karena filem mendapat sambutan dari penontonnya. Saya sendiri tidak terbayang karena belum menontonnya.

Sejak itu cerita bergulir berganti-gantian dengan keheningan lagi. Sungguh saya sangat menikmati situasinya. Membiarkan waktu berlalu saja, tanpa takut kehilangan atau ketinggalan suatu apa pun juga. Sudah terlalu jengah dengan laju gerak di Ibukota yang apa-apa serba cepat. Tidak memberikan kesempatan pada siapa saja untuk melambatkan langkahnya dan membiarkan dirinya menyelam-nyelam pada amatan-amatan dan pikiran-pikirannya sendiri.

Saya sudah lama sekali tidak berada pada situasi semacam ini, jauh dari hingar-bingar kota di atas gunung-gunung yang mengizinkan saya mencapai puncaknya. Berdiam diri, benar-benar meresapi kehadiran seorang lain di hidup saya. Membuatnya merasuki diri saya dan berlari-larian di pikiran saya, berakhir pada sesimpul senyum dan cita. Saat itu, baru sekalinya saya merasa taman di tengah kota memberikan nuansa yang sama. Berdua bersama orang yang saya senangi, duduk bersanding-sandingan menatap pipa PVC di tengah danau buatan yang tak bekerja. Menduga-duga, air yang bergerak-gerak itu disebabkan oleh sembulan kepala ikan atau bukan. Tapi jika pun iya, memangnya kenapa juga ya? Hahaha.

***

                 Saya berangan-angan, mengapa laki-laki ini hemat sekali bicaranya. Dari chat-chat yang ia kirimkan lagaknya menunjukkan ada ketertarikan besar. Sudah sampai di sini, bertatap muka dengan saya, justru saya yang harus memulai pembicaraan. Akhirnya saya menceritakan video yang pernah saya tonton tentang seekor katak berwarna kuning. Sejujurnya, membayangkannya saja sudah menjijikkan. Tapi apa boleh buat, ini menyambung pembicaraan tentang tikus kecil yang baru saja melintas di belakang kami dan pertanyaannya tentang hewan-hewan apa saja yang saya tak sukai. Sudah saya cerita, ia malah bertanya, “kenapa ya katak mau mengencingi mata manusia? Terus gimana juga dia kencingnya?”, lalu dia mengangkat kakinya sebelah. “Begini kali ya?”

Kami baru saja berpindah dari pinggir danau. Saya merasa perlu menyandarkan diri pada sesuatu karena punggung saya cukup lelah. Sudah ada tempat bersandar, justru tempat duduknya yang tidak nyaman. Ia tersusun dari empat buah pipa besi yang berjarak sekitar lima atau tujuh cm di antara masing-masingnya. Setidaknya saya bisa bersandar dan meluruskan kaki. Sebentar saja kaki saya berselonjor, laki-laki itu membalut kaki saya dengan jaket yang diambilnya. Memang udara malam itu cukup dingin, jadi sah-sah saja ia melakukan itu. Lagi pula, saya toh senang. Lanjut, saya bercerita tentang diri saya di bulan Januari lalu. Juga tentang bapak dan ibu saya. Terselip pula cerita tentang keinginan saya yang saya sudah batalkan untuk langsung saja menempuh S2. Terus bercerita sampai sekitar pukul 2.

***

                 Tidak terpikir sebelumnya, saya mendengar cerita-cerita yang mungkin kalau saya yang ada di posisinya maka saya tak memilih cerita itu untuk disampaikan ke sembarang orang. Terlebih orang asing yang baru kenal beberapa bulan saja, barangkali kalau dihitung-hitung tidak sampai sebulan kami sesekali bertatap muka. Yang mana itu juga hanya berisi sapaan-sapaan sekadarnya, di sela-sela kegiatan masing-masing. Saya kira saya harus berterima kasih sudah diberi kesempatan mendengarnya.

Bermaksud mencari suasana lain yang lebih nyaman untuk duduk berselonjor kaki, kami berjalan pindah memutar searah jarum jam. Duduk di sebuah pendopo sejenak, lalu angkat kaki lagi. Pantas saja tidak ada yang duduk di pendopo ini ujarnya. Saya pun mencium aroma tak sedap yang sama. Berjalan lagi, terus sampai kembali di titik semula kami duduk. Sempat ingin di duduk di tangga-tangga, batal karena sekelompok orang dengan alkohol di gelasnya terlalu ingar tertawa-tawa. Taman Ayodya tidak terlalu luas. Sedikit saja pilihan yang tersedia. Kami lalu duduk, dan kembali bertukar cerita. Sampai saya akhirnya mengatakan “Saya mau nembak, apa ya kalimatnya?” Dari gelagatnya, saya yakin ia pura-pura tak dengar apa-apa. Saya juga pura-pura saja seolah tadi tidak berkata apa-apa. Ia kembali bercerita, kali ini tentang permintaan ibunya untuk ia pulang ke Depok juga pikiran-pikirannya tentang itu.

Sekarang giliran kaki saya yang menuntut diluruskan. Dia berdiri, melongok ke arah pendopo yang tadi ada anjingnya. “Di situ saja, gimana?.” Saya mengambil tas dan jaket menghampirinya. Kami berbagi pendopo dengan dua sejoli yang sedang tertidur menunggu pagi. “Saya senang pagi-pagi membuka jendela, mendengar kicauan burung-burung peliharaan Pak RT,” katanya. Tersadar pula saya, sudah sekian lama untuk sekadar mendengarkan kicauan burung, jangkrik dan hewan semacamnya saya lebih dahulu harus membuka YouTube. “Saya mau lanjut cerita. Sini, Mas.” Saya terdiam sebentar, dinding tempatnya bersandar tak terlalu lebar. Akhirnya saya menghampirinya. Tidak segera ia bercerita, cukup lama kami diam, membiarkan burung terus berkicau. Sesekali kami bertukar pandang, awalnya tak sengaja, saya kebetulan ketahuan mencuri pandang padanya. Ia membuka lengannya sedikit, kemudian saya mengalungkan lengan saya pula. Kami bergeser sedikit, dan berbagi sandaran sambil mengatur nafas masing-masing.

***

                 Kami diingatkan sudah pagi oleh kedatangan pasukan orange yang mulai menyapu-menyapu jalanan dan seisi taman. Dua orang yang tadi tertidur pun sudah meninggalkan kami berdua. “Sudah pagi. Mau pulang, Mas?” Kemudian kami berjalan meninggalkan taman menyusul dua orang tadi.

***

                 Saya menjadi lebih dekat dengan si tiang aneh itu. Dari balik jendela saya dapat melihatnya dengan lebih jelas. Di tangkai berdaunnya ternyata ada beberapa burung yang mengobrol. Dia ternyata tetap aneh saja. Saya menantikan bertemu dengan Si Tiang Aneh ini sesegera mungkin. “Terima kasih untuk, hari ini, Mbak.” Ia lalu berjalan lurus ke pintu keluar, saya menuruni tangga untuk bertukar kereta menuju Pasar Minggu di Stasiun Tanah Abang.

 

1 Oktober 2017

Kalmi Rama

Advertisements