Generasi Wacana, Masa Iya?

“Anak sekarang makin pintar, makin galau”. Begitu kira-kira tesis yang diajukan (maaf kalau salah kira, kalau malas tak perlu lanjut membaca). Oh, berarti saya ini dilabel sebagai anak yang sering galau karena hal sepele. Kalau begitu saya jadi bertanya, sepele sih, “apa beda galau dan resah?”

Coba saya kira kira lagi, kayaknya sih ya, galau itu benar kata penulis “Generasi Wacana”, tidak menghasilkan apa-apa. Beda dengan resah, kalau resah itu kita sadar akan adanya masalah. Jadi galau dan resah itu beda, kayaknya.

Sejak awal tulisan, generasi saya ini sudah dilabel negatif, generasi galau, generasi wacana. Yasudah tidak apa-apa, tidak terlalu penting.

Yang saya heran, membuat meme kok diolok oleh generasi di atas saya ini. Dibilangnya bukan bertindak, loh memangnya apa? bertindik?

Membuat meme dianggap manifestasi kegagalan dalam pengambilan keputusan. Mengutip istilah penulis “Generasi Wacana”, membuat meme mungkin disebut REAKTIF, alias cuma bereaksi atas apa yang dia baca, lihat dan dengar, bukan PROAKTIF, alias berani membuat karya dan melakukan perubahan.

Saya izin bercerita, di fakultas saya, FISIP UI, ada gerakan yang bernama #FISIPBERSUARA, dan gerakan ini, dimulai dari meme. Mahasiswa yang resah (bukan galau seperti kata penulis) melihat adanya masalah, memikirkannya, lalu membuat meme. Meme demi meme lahir dari hasil karya mahasiswa. Masih dianggap REAKTIF dan takut mengambil keputusan?

Awalnya saya takut membuat meme, sadar betul ada potensi sanksi administratif dari pihak yang dituju. Namun apa? akhirnya saya dan beberapa mahasiswa lain melakukannya, karena inilah hal paling sederhana yang bisa kami lakukan, membuat meme. Disini keputusan diambil, bukan tanpa resiko. Reaktif?

Perumpamaan selanjutnya cukup mengejek. Ada dahan jatuh menghalangi jalan, generasi saya dianggap cuma bisa foto dengan gadget lalu mengunggah, tanpa melakukan apapun. Padahal, dari perspektif lain, generasi (yang katanya) wacana ini turut berkontribusi pada perubahan. Mungkin belum tahu ya program “lapor” di DKI Jakarta. Coba googling dulu, saya tidak perlu jelaskan.

Ohya, satu lagi. Generasi saya tidak sebodoh itu dengan hanya melihat dahan jatuh kemudian berharap dahannya bisa minggir sendiri, masa iya sih? Kalau berkhayal, memang apa saja mungkin.

“Kalau generasi mudanya mudah galau, hanya bisa berwacana, bisa ditebak kelak seperti apa nasib negaranya”

Waduh, sudah dituduh negatif, generasi saya diancam sudah ditunggu kegagalan. Apa iya pesimisme akan membangun dunia?
Rasa-rasanya pemikiran negatif generasi lalu harus sesegera mungkin ditinggalkan. Tentu tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur.

Ada yang menarik. Generasi saya disalahkan, ujung-ujungnya promosi dagangan, maksudnya cara perubahan, maaf.

Memang saya harus belajar disalahkan daripada disadarkan oleh generasi-generasi di atas saya ini. Salahkan, salahkan, salahkan, salahkan, ujung-ujungnya dihukum.

Tidak merasa menghukum? Memangnya label “Generasi Wacana” ini apa? Sanjungan? Kata Motivasi? Bukan!
Itu label yang dekonstruktif.

Saya ambil keputusan untuk menulis, reaktif? terserah apa kata mereka yang mendukung terminologi “Generasi Wacana”.
Ya, sekarang cuma bisa nulis, namanya juga saya generasi wacana.

Nb: Tolong kasih tahu saya kalau “menulis” sudah dieleminasi dari kelompok “tindakan”
Beji, 27 Oktober 2015

Advertisements

Silahkan Berkomentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.